Skip to main content

Analisis Pakar Soal Tak Ditemukannya Jasad Pawang Buaya dan Arjuna

Suprianto dan Arjuna tewas akibat diserang buaya di Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kaltim pada Sabtu (16/9). Namun, dua hari setelah peristiwa itu jasad kedua korban belum ditemukan.

Peneliti LIPI Hellen Kurniati menduga keduanya sudah habis dimakan buaya. Dugaan kedua, buaya itu meninggalkan jasad kedua korban itu setelah dilukai.

"Bisa itu dimakan habis, saya cenderung itu dimakan habis. Karena biasanya kalau hanya patah-patah itu ditinggal sama dia (buaya)," kata Hellen kepada detikcom, Minggu (17/9/2017) malam.

Hellen menyebut ada dua penyebab buaya menjadikan manusia sebagai mangsa. Salah satunya yakni berkurangnya makanan di wilayah yang ditempati buaya. Biasanya buaya yang kelaparan akan memakan manusia hingga habis.


"Jadi pengalaman saya di NTT yang buayanya banyak makan orang, buaya memangsa manusia itu ada yang habis tapi ada yang hanya dipatah-patahkan, kalau yang dimangsa habis itu buaya itu lapar. Tapi kalau yang hanya dipatah-patahkan saja kemudian tidak dimakan, itu menganggap manusia itu dikira sebagai penggangu daerah teritorialnya," ucap Hellen.

Berdasarkan catatan LIPI, ada 15 kasus serupa dalam tujuh tahun terakhir. Kasus yang menewaskan Suprianto dan Arjuna merupakan yang pertama pada 2017 ini.

"Lebih dari 15 selama mulai dicatat itu tahun 2010, kalau 2017 saya baru dengar korban itu sekarang," imbuhnya.

Baca juga: 7 Kasus Manusia Diterkam Buaya yang Bikin Geger

Sebagai bentuk pencegahan terulangnya kasus serupa, Hellen mengajak masyarakat untuk memastikaan keamanan mereka saat berada di sungai. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni membuat pembatas di sungai yang dianggap ditempati buaya.

"Harusnya kalau mandi di sungai itu dibuatlah ada pagar, jangan langsung nyebur ke sungai. Karena buaya itu kan mangsanya pelan. Dia tidak mau memangsa orang yang di air geraknya cepat, jadi yang sedang nyuci, lagi tenang, biasanya begitu," pungkasnya.
(abw/ams)

Comments

Popular posts from this blog

Cewek Pemalang Bikin Pemuda Asal Belanda Bertekuk Lutut, Begini Kisahnya

Seorang pemuda warga negara Belanda, Raymond Vellekop (28) rela datang ke Indonesia untuk melamar gadis pujaannya, Isti Khumairoh (27), warga Desa Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang. Setelah datang ke rumah dan menemui orangtua si gadis, bule asal Rotterdam Belanda itu mantap menikah pada awal 2018 mendatang. Raymond juga telah disunat dan menjadi mualaf (masuk Islam) sesuai permintaan orang tua Isti. "Kami sudah mantap (menikah). Orangtua saya juga begitu. Kalau orangtua Raymond itu akan menuruti permintan anaknya, asalkan bahagia," kata Isti di rumahnya, Kamis (21/9/2017). Selama kenal dan berkomunikasi dengan Raymond, Isti juga kerap berkomunikasi dengan orang tua Raymond di Negeri Kincir Angin, baik melalui pesan ataupun video call. Ketertarikan mereka lantaran tetangga rumah keluarga Raymond di Belanda .. "Beruntung, saya pernah kursus Bahasa Inggris. Dan juga pernah jadi TKI di Singapura, jadi bisa berbicara (bahasa) Inggris," jela...